Thoghut Demokrasi Bersimbah Darah (Bagian 7)

new1a


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Aqil Hafizhahullah
(Bagian 7-Tamat)

Demi Allah, kami amat sangat membenci ahlul bid’ah. Akan tetapi kita adalah para dokter. Jika mereka tidak kita obati, siapa lagi yang akan mengobatinya? Jika kita tidak menyayangi mereka, siapa lagi yang akan menyayangi? Tetapi jika mereka meminta agar kita mengalah dalam masalah tauhid, tidak. Kita tidak akan mau mengalah satu huruf pun. Dalam masalah aqidah, satu huruf pun kita tidak akan mengalah.

Kalau mereka berkata: “Baik, kami kaum muslimin dan kalian pun kaum muslimin, maka pilihlah partai kami dalam pemilu.”
Kita katakan: Tidak. Kami tidak memilih dan tidak ingin dipilih. Kami tidak menginginkan perkara politik. Jika kami memilih kalian dan kalian menjadi penguasa, jangan-jangan kalian tidak mengamalkan tugas kalian dengan sebenarnya. Kami tidak ingin memilih kalian dan tidak ingin kalian memilih kami. Kami hanya ingin mengajak kalian kepada Allah, semoga Allah memberi taufik kepada kalian. Di Indonesia, ada 180 juta yang memilih kalian selain kami.
Baca selebihnya »

Thoghut Demokrasi Bersimbah Darah (Bagian 6)

new1a


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Aqil Hafizhahullah
(Bagian 6)

Ya Ahibbati fillahi. Ketahuilah, sebaik-baik orang Afrika adalah orang Somalia. Sungguh mereka adalah orang yang paling baik ilmunya, dakwahnya, bahasanya…. Tapi lihatlah para da’i dari orang-orang Somalia ini. Mereka terusir ke mana-mana dalam jumlah besar. Yang demikian karena mereka masuk pada perkara yang bukan urusan mereka.
Politik adalah perangkap bagi para ulama. Ketika orang-orang jelek dari Barat melihat bahwa dakwah di Aljazair sangat kuat dan berada di atas manhaj salaf, ya memang awalnya di atas manhaj salaf. Mereka berkata: “Apa yang diperbuat oleh mereka itu? Bukankah Ajazair termasuk Perancis, bagian dari Perancis yang kemudian memisahkan diri?” Demikian pula dikatakan dalam pelajaran geografi. Maka mereka berkata: “Iibatkan saja mereka dalam politik.” Maka ketika mereka masuk dalam politik, mulailah orang-orang bodoh yang tidak memiliki akal berkata: “bbbbbbbb (yakni berbicara sembarang tentang politik dan penguasa).”

Inilah yang terjadi di dunia Islam sekarang ini. Setiap kita melihat para pemuda mengajari manusia dan menghafal ilmu, datang seorang pemuda ahwaj [24] yang bodoh dan tidak berakal mengajak kepada politik, demonstrasi, kemudian dihadapkan kepada penguasa (diadu dengan penguasa), maka terbunuhlah mereka.
Politik adalah jebakan buat para ulama dan perangkap bagi para da’i. la tidak ada sangkut pautnya dengan dakwah, tidak jauh dan tidak pula dekat. Karena kita tidak mencari kekuasaan dan kita tidak menginginkan kekuasaan. Orang yang ini mengingkari yang itu, yang berkuasa ingin tetap berkuasa, dan seterusnya (semoga Allah memberikan pertolongan). Urusan kita adalah bagaimana kita shalat yang benar, bagaimana kita beribadah kepada Allah dan berdoa kepada Allah untuk penguasa tanpa sepengetahuannya. Dan kita berusaha untuk menasehatinya.
Baca selebihnya »

Thoghut Demokrasi Bersimbah Darah (Bagian 5)

new1a


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Aqil Hafizhahullah
(Bagian 5)

Seorang penguasa muslim kalau ia telah berkuasa atas kita… (harus ditaati, pent) karena syariat Islam telah menentukan tiga keadaan bagi penguasa.
1. Diangkat oleh ahlul halli wal aqdi.
2. Wasiat dari penguasa sebelumnya.
3. Adanya orang yang lebih kuat kemudian mengalahkannya.

Pertama: Diangkat oleh ahlul halli wal aqdi. Adapun orang awam tidak ada nilainya sebagaimana ucapan Ali radliyallahu ‘anhu: “Manusia itu tiga : Ulama Robbani, penuntut ilmu di jalan keselamatan dan orang-orang bodoh yang tidak ada kebaikan padanya. Adapun dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan umat, rakyat jelata tidak pantas terjun padanya selama-lamanya. Yang paling pantas adalah ahlul halli wal aqdi, yaitu ulama’, umara’, pemimpin-pemimpin kabilah, pemimpin-pemimpin militer, para pengusaha (konglomerat), yang ucapan mereka memiliki pengaruh. Jika mereka berkata tidak, maka di bawahnya sejuta orang mengatakan “tidak”. Dan jika mereka berkata ya, maka di bawahnya sejuta orang mengatakan “ya”. Jika mereka berkumpul dan mengangkat seorang muslim yang shaleh, maka kita tunduk dan berkata Lailaha Illallahu. Karena kita tidak bermaksud mencari kekuasan. Kami tidak menginginkan kedudukan. Kita diciptakan untuk apa? Apakah untuk menjadi penguasa? Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Hukum asalnya, Khilafah Islamiyah itu adalah satu. Umat Islam jumlahnya milyaran, jika semuanya mencari kekuasaan maka dunia ini akan hancur. Satu pemimpin cukup bagi milyaran umat Islam. Satu orang khalifah Quraisy cukup bagi umat ini seluruhnya. Kalau setiap orang membawa pendapatnya sendiri…? Laa haula wala quwata illa billah. Kita diciptakan agar beribadah kepada Allah. Kita menghilangkan kejahilan dari diri kita agar kita beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua: Wasiat dari penguasa yang sebelumnya, oleh karena itu Mu’awiyah Radliyallahu ‘Anhu bahkan sebelumnya Abu Bakr mewasiatkan dengan menunjuk Umar Radliyallahu ‘Anhu agar manusia menerima. Maka mereka mengatakan kami mendengar dan ta’at. Kemudian Mu’awiyah mewasiatkan kepada Yazid setelahnya. Demikian pula Yazid mewasiatkan orang setelahnya dan terus berlangsung pada umat ini. Kemudian dibai’at oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Alhamdulillah! Maka berjalanlah umat dan para ulamanya. Padanya ada jihad, kemenangan-kemenangan, pembukaan kota-kota dan seterusnya. Hingga Islam sampai di Cina, Perancis dan seterusnya. Kita memuji dan bersyukur kepada Allah.
Ketiga: Atau seorang yang lebih kuat mengalahkan yang lain. Dia mengalahkan orang lain sehingga kekuasaannya tegak. Abdulllah bin Az Zubair didengar dan ditaati oleh kaum muslimin. Kemudian runtuhlah pemerintahan Abdullah bin Az Zubair dan berdirilah pemerintahan Umawiyyin. Kaum muslimin mendengar dan mentaati mereka, meskipun ia berkuasa dengan mengalahkannya (kudeta). Dia adalah khalifah Islam, baginya hak didengar dan ditaati. Inilah ketiga perkara itu.
Baca selebihnya »

Thoghut Demokrasi Bersimbah Darah (Bagian 4)

new1a


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Aqil Hafizhahullah
(Bagian 4)

Wahai saudaraku, siapakah penguasa? Apakah kalian menyangka bahwa penguasa itu hanya satu orang? Penguasa itu jumlahnya ratusan ribu wahai saudaraku. Penguasa itu terdiri dari anak pamanku, anak pamanmu, anak bibiku, anak bibimu. Pamanmu dari pihak laki-laki dan pihak wanita. Tidak ada di antara kita melainkan memiliki saudara yang berada dalam pasukan tentara, saudara yang berada di kepolisian, saudara di departemen pendidikan, saudara yang berada di departemen kehakiman, saudara dalam politik. Apakah penguasa itu berdiri sendiri? Jika seorang penguasa muslim itu sendirian -seperti Raja Najasyi- apakah dia bisa merubah Habasyah? Karena dia sendirian. Sehingga tidak mampu mengadakan perubahan sedikitpun. Yusuf ‘alaihis salam lebih baik dari Najasyi, namun tidak mampu merubah Mesir, karena dia sendirian. Mereka adalah penyembah berhala sedang beliau seorang muslim. Beliau tidak mampu merubah mereka. Maka sesungguhnya penguasa itu pada hakekatnya adalah anak-anak pamanmu, anak-anak bibimu, dan seterusnya. Jadi engkau sesungguhnya saudara mereka.
Ada sebuah contoh untuk anda. Sebuah madrasah ilmaniyah (sekuler), kemudian Allah memberikan rizki dengan hadirnya seorang pengajar Salafy. Allah memperbaiki puluhan ribu pelajar, sebaliknya satu pengajar (sekuler) akan merusak puluhan ribu pelajar. Apakah anda wahai saudaraku memperhatikan perkara ini? Jika demikian ketika kita mengatakan: “Penguasa, penguasa, penguasa!!” Ini adalah kalimat dagang. Bukan kalimat ilmiyyah dan bukan pula kalimat aqliyah (masuk di akal). Ini semata-mata kalimat untuk menarik massa (provokasi.ed).
Maka persoalannya kembali kepada masalah “kecuali kalian melihat kekufuran yang nyata, kalian memiliki bukti di sisi Allah.” Kita berkata: “Yang menghukumi di sini adalah para ulama rabbaniyyin.”
Orang-orang Aljazair menanyakan kepada Syaikh Ibnu Utsaimin di Masjidil Haram dan kami mendengarkan, bahkan tersebar di kaset-kaset. “Apa yang harus kami lakukan terhadap penguasa kami di negeri kami?” -Pada awal pertama revolusi- Syaikh menjawab: “Bertakwalah kepada Allah! bersabarlah! jangan kalian terjun dalam perkara ini. Ajarilah manusia dengan ilmu, pelajarilah agama kalian. Daulah tersebut memiliki bala tentara dan memiliki mobil, tank, sedangkan kalian hanya memiliki pisau [17].”

Wahai saudaraku, bertakwalah kepada Allah. Nasehat itu bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi mereka tidak mau mengambil hukum kepada para ulama. Mereka hanya bertahkim kepada para ahli pidato, sebagaimana Ali radliyallahu ‘anhu berkata, “Banyak khatibnya, dan sedikit ulamanya.” Mereka bertahkim kepada para orator. Maka terjadilah musibah besar, naudzubillah padahal tidak hanya sekali atau dua kali saja syaikh berbicara. Yang menghakimi masalah ini bukanlah para sopir, dokter dan insinyur, walaupun mereka berjenggot lebat. Anda tidak pantas menghukumi! Karena anda pun tidak ridla, kalau seorang Doktor di Jami’ah Islamiyyah dalam bidang aqidah, apakah engkau ridla jika dia menyuntik anda?
Baca selebihnya »

Thoghut Demokrasi Bersimbah Darah (Bagian 3)

new1a


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Aqil Hafizhahullah
(Bagian 3)

Akan tetapi yang menjadi permasalahan, kita melihat tauladan kita Nabi Shalallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan sisa sedikit pun bagi kita, yakni Nabi Shalallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah, kemudian menyebutkan segala sesuatu di dekat hari kiamat. Akan mengetahui orang yang mengetahuinya dan tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya. Maka inilah wasiat yang agung, yang wajib diketahui oleh umat, beliau berwasiat:
وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْرًا،
“Aku wasiatkan agar kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat”. Dan sesungguhnya barangsiapa hidup di antara kalian, maka akan melihat perselisihan yang banyak.”
Ikhtilaf yang terjadi sekarang banyak sekali. Bukankah begitu wahai saudara-saudaraku?! Perselisihan yang terjadi di antara kita, apakah dalam masalah aqidah ataupun politik, beliau bersabda,
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفاَءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ
“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku”.
Maka generasi muda sekarang tertimpa kerancuan/kerusuhan dan kegilaan, demi yang tidak adaTuhan yang berhak disembah kecuali Dia, sungguh mereka ditimpa keadaan yang menyerupai kegilaan, generasi umat ini tertimpa dengannya. Mereka lupa makna Laailaha illallah, mereka lupa makna Muhammad Rasulullah, mereka lupa mempelajari makna-makna iman, menghapal Al Qur’an. Padahal kaum salaf rahimahumullah, memulai dengan menghapal Al Qur’an. Bahkan ada seseorang di antara mereka tidak melangkahi 10 ayat sampai dia mempelajari apa yang ada padanya dan mengamalkannya. Mereka berkata: “Seseorang dari kami menghapal satu hadits atau dua hadits, kemudian terlihat aplikasinya pada keadaannya, ketenangannya, ketawadluannya dan kekhusyukannya.” Dia hanya menghapal satu hadits, kemudian tawadlu kepada Allah, khusyu kepada Allah. Hanya satu hadits.

Sedangkan kita sekarang, semakin bertambah ilmunya semakin takabur. Ilmunya tidak terbangun di atas kaidah-kaidah salaf rahimahumullahu. Kaidah-kaidah salaf terkenal sebagai rahmat bagi umat ini. Sedangkan Mereka: “kami mencobanya,” 600 jiwa terbunuh. Mereka berkata: “Kami mencobanya” Hatinya keras, tidak punya perasaan. Apakah dia mencoba-coba?

Nabi Shalallaku ‘alaihi wa sallam pernah berdiri semalam suntuk berdo’a kepada Allah sambil menangis:
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ
“Jika engkau mengadzab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu.” (Al Maidah : 118)
Sebagai rasa kasih sayang beliau,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Ali Imran:159).
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorangRasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah: 128).
Baca selebihnya »

Thoghut Demokrasi Bersimbah Darah (Bagian 2)

new1a


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Aqil Hafizhahullah

(Bagian 2)

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan mendengar dan taat.”

Menakjubkan! Beliau Shallallahu’alaihi wasallam tidak berkata: “Aku wasiatkan kalian dengan bertauhid dan shalat”. Ini termasuk jawami’ul kalim yaitu ucapan-ucapan yang ringkas dan padat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ucapan beliau Shallallahu’alaihi wasallam, “Aku wasiatkan kalian bertaqwa kepada Allah”, terkandung di dalamnya melakukan seluruh apa yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dan meninggalkan segala larangan-Nya Subhanallahu wa Ta’ala, (termasuk tauhid dan shalat, pent)
Baik, bukankah termasuk bertaqwa kepada Allah adalah ta’at kepada penguasa? Ya. Termasuk bertaqwa kepada Allah adalah ta’at kepada penguasa, karena ia merupakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Kenapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyendirikannya? Karena pentingnya masalah ini bagi jama’ah kaum muslimin. Karena barangsiapa merebut kekuasaan dari ahlinya, akan merusak masyarakat.

Kita contohkan dari kenyataan umat, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam kitabnya “Minhajus Sunnah An Nabawiyah”, mengumpulkan penyebab-penyebab kelemahan umat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari awal pertama.
Beliau berkata: “Yaitu merebut kekuasaan (dari) pemegangnya”. Dari hari pertama, beliau berbicara tentang kejadian yang terjadi pada Al Husain ‘alaihi sallam dan terbunuhnya beliau oleh tangan pasukan Yazid bin Mu’awiyah. Syaikhul Islam berkata: “Apa faedah yang kembali kepada umat ini?”
Tidaklah kembali kepada umat ini kecuali pertumpahan darah dan terbunuhnya cucu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau ingin kembali, tetapi tentaranya menolak. Maka yang terjadi adalah fitnah yang besar. Kemudian terjadilah peristiwa Harrah [3], darah mengalir di kota Madinah karena peristiwa Harrah. Dan kemudian setelah itu banyak kejadian. Di antaranya terbunuhnya Abdullah bin Az Zubair oleh Al Hajjaj. Dia menyalibnya di Makkatul Mukarammah dan penghancuran Ka’bah. Apa penyebabnya, wahai saudaraku fillah? Semuanya adalah karena merongrong kekuasaan dari pemegangnya.
Baca selebihnya »

Thoghut Demokrasi Bersimbah Darah (Bagian 1)

new1a


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Aqil Hafizhahullah
(Bagian 1)

Hadits Irbadl bin Sariyah adalah hadits yang sangat masyhur. Yang pada hakikatnya adalah wasiat yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya Radliallahu ‘anhum, “Dari Abu Najih Al ‘Irbadl bin Sariyah radliyallahu ‘anhu dia bercerita:

وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْناَ: يَا رَسُولَ اللهِ كَأَنَّهاَ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِناَ. قَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفاَءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهاَ وَعَضُّوْا عَلَيْهاَ بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Rasulullah Shallallahu “alaihi wa sallam menasehati kami dengan nasehat yang menyentuh, sehingga airmata berlinang dan hati tergetar. Maka kami berkata : Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan, maka berilah wasiat kepada kami!” Beliau bersabda: Saya wasiatkan kalian bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at, walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak. Dan sesungguhnya barangsiapa masih hidup di antara kalian maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang berada di jalan yang lurus dan mendapatkan petunjuk setelahku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian, dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru, karena sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah.”
(HSR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi No. 2676, Ibnu Majah no. 42,43,44. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 2546)

Sungguh hadits ini adalah hadits yang agung, dan sebagai kaum muslimin, saat jauh dari masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kita semakin butuh untuk kembali kepada ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dalam ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Saya berkata: “Setiap masa yang semakin jauh dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka semakin butuh untuk kembali kepada ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab tidak ada keselamatan bagi kita di jaman ini kecuali dengan ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Baca selebihnya »

Siapakah Ahlu Syura?

new1a


Penulis : Redaksi Asy-Syariah

Dalam demokrasi, orang mengenal istilah one man one vote. Dengan satu orang satu suara, maka tak ada lagi istilah muslim atau kafir, ulama atau juhala, ahli maksiat atau orang shalih, dan seterusnya. Semua suara bernilai sama di hadapan ‘hukum’. Walhasil, keputusan yang terbaik adalah keputusan yang diperoleh dengan suara mayoritas. Lalu bagaimana dengan sistem Islam? Siapakah yang patut didengar suaranya?

Dalam ketatanegaraan Islam
Dikenal istilah ‘ahli syura’. Posisinya yang sangat penting membuat keberadaannya tidak mungkin dipisahkan dengan struktur ketatanegaraan. Karena bagaimanapun bagusnya seorang pemimpin, ia tetap tidak akan pernah lepas dari kelemahan, kelalaian, atau ketidaktahuan dalam beberapa hal. Sampai-sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun diperintahkan untuk melakukan syura. Apalagi selain beliau tentunya. Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Jika Allah mengatakan kepada Rasul-Nya -padahal beliau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling banyak ilmunya, dan paling bagus idenya- ‘Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu’, maka bagaimana dengan yang selain beliau?” (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 154)
Kata asy-syura (الشُوْرَى) adalah ungkapan lain dari kata musyawarah (مُشَاوَرَةٌ) atau masyurah (مَشُوْرَةٌ) yang dalam bahasa kita juga dikenal dengan musyawarah, sehingga ahli syura adalah orang-orang yang dipercaya untuk diajak bermusyawarah.

Disyariatkannya Syura
Allah ta’ala berfirman:
وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ
“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159)
Juga Allah memuji kaum mukminin dengan firman-Nya:
وَأَمْرُهُمْ شُوْرَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah dan mereka menafkahkan sebagian yang kami rizkikan kepada mereka.” (Asy-Syura: 38)
Kedua ayat yang mulia itu menunjukkan tentang disyariatkannya bermusyawarah. Ditambah lagi dengan praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sering melakukannya dengan para shahabatnya seperti dalam masalah tawanan perang Badr, kepergian menuju Uhud untuk menghadapi kaum musyrikin, menanggapi tuduhan orang-orang munafiq yang menuduh ‘Aisyah berzina, dan lain-lain. Demikian pula para shahabat beliau berjalan di atas jalan ini. (lihat Shahih Al-Bukhari, 13/339 dengan Fathul Bari)
Ibnu Hajar berkata: “Para ulama berselisih dalam hukum wajibnya.” (Fathul Bari, 13/341)
Baca selebihnya »

Pemberontakan dengan Lisan

new1a


Penulis : Redaksi Asy-Syariah

Tanya:
Fadhilatusy Syaikh Dr. Shalih As-Sadlan ditanya: “Wahai syaikh, menurut pemahaman saya, Anda tidak mengkhususkan pemberontakan itu hanya dengan pedang tetapi termasuk juga pemberontakan yang dilakukan dengan lisan?”

Jawab:
“Ini pertanyaan penting karena sebagian dari saudara-saudara kita telah melakukannya dengan niat baik dalam keadaan meyakini bahwa pemberontakan itu hanya dengan pedang saja. Padahal pada hakekatnya pemberontakan itu tidak hanya dengan pedang dan kekuatan saja, atau penentangan dengan cara-cara yang sudah diketahui secara umum. Tetapi pemberontakan yang dilakukan dengan lisan (ucapan) justru lebih dahsyat dari pemberontakan dengan senjata karena pemberontakan dengan pedang dan kekerasan justru dilahirkan dari pemberontakan dengan lisan.
Baca selebihnya »

Hukum Mayoritas Dalam Syariat Islam

new1a


Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari
Telah menjadi sunnatullah kalau kebanyakan manusia merupakan para penentang kebenaran. Maka menjadi ironi, ketika kebenaran kemudian diukur dengan suara mayoritas.

Apa Itu Hukum Mayoritas ?

Yang dimaksud dengan hukum mayoritas dalam pembahasan ini adalah suatu ketetapan hukum di mana jumlah mayoritas merupakan patokan kebenaran dan suara terbanyak merupakan keputusan yang harus diikuti, walaupun ternyata bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah .
Sejauh manakah keabsahan hukum mayoritas ini? Untuk mengetahui jawabannya, perlu ditelusuri terlebih dahulu oknumnya (pengusungnya), yang dalam hal ini adalah manusia, baik tentang hakekat jati dirinya, sikapnya terhadap para rasul, atau pun keadaan mayoritas dari mereka, menurut kacamata syari’at. Karena dengan diketahui keadaan oknum mayoritas, maka akan diketahui pula sejauh mana keabsahan hukum tersebut.

Hakekat Jati Diri Manusia

Manusia adalah satu-satunya makhluk Allah yang menyatakan diri siap memikul “amanat berat” yang tidak mampu dilakukan oleh makhluk-makhluk besar seperti langit, bumi dan gunung-gunung. Padahal makhluk yang bernama manusia ini berjati diri dzalum (amat zhalim) dan jahul (amat bodoh). Allah berfirman:
إِِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاْلجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً
“Sesungguhnya Kami telah tawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzaab: 72)
Baca selebihnya »